INTERNAL WORKING MODEL : CARA ANAK MELIHAT DUNIA TERBENTUK DARI CARA ORANG TUA MEMPERLAKUKANNYA

INTERNAL WORKING MODEL : CARA ANAK MELIHAT DUNIA TERBENTUK DARI CARA ORANG TUA MEMPERLAKUKANNYA

Tidak semua anak hidup di dunia yang sama. Bagi sebagian, dunia terasa aman dan bisa dipercaya. Bagi sebagian lain, dunia tampak penuh ancaman, bahkan sebelum mereka menginjak usia dewasa. Fakta menariknya, penelitian dari University of Minnesota yang berlangsung selama 30 tahun menemukan bahwa cara anak mempersepsi dunia apakah aman, penuh cinta, atau berbahaya bukan dibentuk oleh realitas dunia itu sendiri, tetapi oleh pola hubungan awal dengan orang tuanya.

Itulah yang disebut Internal Working Model, konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh John Bowlby dalam teori attachment. Model ini menjelaskan bahwa anak tidak hanya belajar berbicara atau berjalan dari orang tua, tetapi juga belajar “bagaimana dunia bekerja” dan “seperti apa dirinya di mata orang lain”. Pola ini tersimpan di otak dan menjadi cetak biru hubungan mereka di masa depan.

1. Anak tidak melihat dunia apa adanya, tetapi sebagaimana dunia memperlakukannya di masa kecil

Ketika seorang anak tumbuh dalam rumah yang penuh kasih, di mana kesalahan tidak langsung disalahkan dan tangisan tidak diabaikan, ia belajar bahwa dunia bisa dipercaya. Ia merasa bahwa ketika ia butuh bantuan, seseorang akan datang. Maka, di sekolah, ia lebih berani mencoba, lebih mudah berinteraksi, dan lebih jarang menarik diri.

Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam ketakutan dan kontrol berlebihan belajar hal sebaliknya: bahwa dunia adalah tempat yang menghakimi. Maka ketika ia gagal, ia menyalahkan diri sendiri. Ia tidak takut pada dunia, tapi takut pada penolakan.

2. Internal Working Model adalah lensa emosional yang memfilter semua pengalaman

Dua anak bisa mengalami hal yang sama namun menafsirkannya secara berbeda. Ketika dimarahi guru, satu anak berpikir “aku perlu memperbaiki diriku”, sedangkan yang lain berpikir “aku memang selalu salah”. Perbedaannya bukan pada kejadian, melainkan pada model internal yang mereka bawa dari rumah.

Otak anak, terutama pada usia 0–7 tahun, sangat plastis dan menyerap pengalaman emosional sebagai “kebenaran dunia”. Jika pada usia itu ia sering mendengar “kamu tidak bisa apa-apa”, maka kata itu menjadi narasi batin yang mengiringinya hingga dewasa. Ia akan menilai dunia berdasarkan skrip lama yang tidak ia sadari.

3. Hubungan awal dengan orang tua membentuk peta kepercayaan terhadap diri sendiri dan orang lain

Menurut Mary Ainsworth, ada empat tipe attachment: aman, cemas, menghindar, dan disorganisasi. Anak dengan secure attachment melihat dunia sebagai tempat yang bisa dipahami. Ia merasa berharga, dicintai, dan mampu menghadapi tantangan. Sebaliknya, anak dengan insecure attachment sering merasa tidak cukup baik, bahkan ketika prestasinya tinggi.

Contohnya sederhana. Saat anak jatuh dan menangis, reaksi orang tua menjadi sinyal besar bagi otaknya. Jika orang tua berkata, “Tidak apa-apa, sini Mama bantu,” anak belajar bahwa ia aman. Tapi jika responsnya, “Ah, nangis terus, dasar lemah,” otak anak mencatat bahwa emosi tidak boleh ditunjukkan. Ia pun tumbuh menekan perasaannya, mengira bahwa kekuatan berarti menolak kelemahan.

4. Pola pengasuhan menjadi cermin pertama anak dalam memahami cinta dan hubungan

Anak tidak belajar mencintai dengan mendengar nasihat, tetapi dengan melihat bagaimana cinta diterapkan. Jika ayah memperlakukan ibu dengan lembut, anak belajar bahwa cinta berarti saling menghargai. Namun jika di rumah yang sering ia lihat adalah amarah dan penghinaan, cinta baginya akan terasa seperti luka yang tidak selesai.

Ketika dewasa, model itu kembali muncul dalam hubungan romantis atau pertemanan. Ia mungkin mencari orang yang memperlakukannya sama seperti orang tua dulu, bukan karena nyaman, tapi karena familiar. Itulah mengapa memahami Internal Working Model penting, agar pola lama tidak diwariskan tanpa sadar ke generasi berikutnya.

5. Repetisi pengalaman membentuk keyakinan bawah sadar tentang diri sendiri

Jika seorang anak mendengar kalimat “Kamu nakal” setiap kali ia salah, otaknya tidak akan membedakan antara perilaku dan identitas. Ia tidak berpikir “aku melakukan kesalahan”, melainkan “aku adalah kesalahan”. Maka, saat ia dewasa, ia sulit percaya bahwa dirinya layak bahagia, karena narasi dasar tentang dirinya sudah rusak sejak kecil.

Namun hal sebaliknya juga benar. Ketika anak diperlakukan dengan kasih konsisten, otak membangun asosiasi bahwa dirinya berharga. Pengulangan pengalaman positif membentuk jalur saraf baru yang memperkuat rasa aman internal. Di sinilah ilmu neuroscience bertemu dengan psikologi pengasuhan — pengalaman emosional mengubah struktur otak secara literal.

6. Internal Working Model bisa diubah, tapi hanya lewat pengalaman emosional baru

Model ini bukan vonis seumur hidup. Otak manusia punya kemampuan neuroplasticity, yakni kemampuan membangun ulang jalur saraf berdasarkan pengalaman baru. Namun, perubahan tidak terjadi lewat nasihat atau teori, melainkan melalui pengalaman emosional yang berlawanan dengan pola lama.

Anak yang dulu sering diabaikan bisa belajar percaya lagi ketika ia merasakan konsistensi kasih dari orang tua atau lingkungan baru. Inilah sebabnya kehadiran orang tua yang hangat dan tidak reaktif lebih kuat pengaruhnya daripada seribu kata motivasi.

7. Cara terbaik mengubah dunia anak adalah dengan mengubah cara kita memperlakukannya

Internal Working Model bukan hanya teori, tetapi cermin bagi orang tua. Dunia anak tidak dibentuk oleh kata-kata, tetapi oleh cara kita hadir. Setiap kali kita bersabar saat anak frustrasi, kita sedang menulis ulang peta otaknya tentang rasa aman. Setiap kali kita memilih mendengar daripada memarahi, kita sedang menunjukkan bahwa dunia bisa dipercaya.

Hubungan yang hangat tidak membuat anak lemah, justru membuatnya tangguh. Karena ketahanan sejati bukan berasal dari penyangkalan emosi, tetapi dari keyakinan bahwa seseorang akan tetap mencintainya bahkan di tengah kesalahan.

Anak tidak belajar siapa dirinya dari kata-kata kita, tetapi dari cara kita memperlakukannya setiap hari. Jika kamu sepakat bahwa kehangatan lebih membentuk masa depan daripada perintah, tulis pandanganmu di kolom komentar. Bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang tua sadar bahwa sebelum mengubah anak, yang perlu kita ubah adalah cara kita mencintainya.

*****

Sumber :

https://web.facebook.com/share/p/1A4RJivatp/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  • SHARE